Aku dan Sasuke

Senin, 13 Mei 2013


Tak mampu ku bendung air di kantung mataku hingga akhirnya membasahi pipiku, mengalir indah diwajahku,yang saat itu tertutup helm, ketika aku sedang mengendarai motorku  menuju rumah seusai menghadiri Seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi, disanalah untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan saudaraku, setelah ia pulang dari mengikuti agenda bertaraf Nasional di Bandung, dia adalah salah satu saudaraku satu angkatan di kampus yang ikut mewakili provinsi kami, disana ia memberiku oleh-oleh dari agenda tersebut dan bercerita tentang keadaannya disana selama satu minggu.

Senang, bangga, iri dan kecewa. Mungkin itulah perasaan ku saat ini yang bisa kusebutkan, entah perasaan apalagi yang ada dalam hati ini hingga tak tau lagi aku menyebutnya, semua  bercampur aduk menjadi satu, menggumpal, membesar, dan rasanya hati ini tak mampu menampung itu semua, seakan mereka ingin keluar dengan memecah gelembung hati ini.

Ya, aku senang melihatnya pulang dengan selamat, dan bangga mempunyai saudara yang begitu kompeten, hingga ia bisa pergi ke luar pulau yang terpilih menjadi utusan dari LDK kami. Tapi aku juga iri melihat perkembangannya yang begitu pesat mulai dari kepiawaiannya dalam berbicara sampai keilmuannya, hingga meninggalkanku yang masih jauh di belakangnya, bertanya dalam hati, “mengapa aku tidak bisa?” dan kecewa melihat keadaanku yang tak sehebat ia, tak sepandai ia, seakan tak ada artinya jika dibandingkan dengannya. Menyedihkan.

Sempat aku berfikir, apakah orang sepertiku masih dibutuhkan untuk perkembangan dakwah ini di wadah tempatku sekarang? Melihat dari banyak teman seangkatanku yang memiliki kemampuan yang lebih dibanding diriku. Sepertinya orang sepertiku tak dibutuhkan lagi, hanya akan memenuhkan daftar nama saja, namun tak menambah manfaat. Aku merasa tak berguna.

Teng.. Sasuke..Uchiha Sasuke… Pikiran ku tiba-tiba tertuju pada sosok ini.
Ya, ia adalah salah satu tokoh karakter di film yang tak asing lagi kita dengar, Naruto. Kisahnya di film itu sangat mirip dengan kisahku saat ini, ketika ia melihat perkembangan Naruto yang begitu pesat jauh meninggalkan dirinya di belakang, dan berfikir ia tak akan menjadi kuat di Konoha dan akan terus di bayang-bayangi oleh Naruto. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi dari konoha dan memilih untuk ikut bersama. Ya, aku juga sempat berfikir untuk keluar dari barisan dakwah ini.
***

Siang ini tak seperti biasa di kota khatulistiwa ini, seakan mengetaui keadaan hatiku. terik matahari tak begitu menyengat, karena siang ini langit ditutupi awan tebal yang menggumpal dengan warna khas mendung, abu-abu.

“Allahuakbar..Allahuakbar..”
Sekejap suara adzan Dzuhur menyadarkanku dari lamunan, di tengah perjalananku menuju rumah. Waktu terasa cepat sekali, seakan tak mau kalah dengan motorku yang sedang ku kendarai ini. Tanpa pikir panjang akupun langsung membelokkan motorku ke arah masjid yang berada tepat disamping jalan yang kulewati.

“Bismillahirrahmanirrahim”
Air wudhu mulai membasahi permukaan kulitku merasuk menembus kulit menuju tulangku. Ya Allah, sungguh nikmat air ini hingga semuanya terasa terbersihkan dari rasa penat dan kotoran-kotoran duniawi yang sempat menguras pikiranku.
Allahuakbar..” takbirpun ku lakukan sebagai syarat shalatku.
***
Alhamdulillah, kewajiban telah kulaksanakan, kini jiwa ini telah dingin setelah ku ambil air wudhu dan hati ini menjadi tenang setelah berkomunikasi dengan-Nya. Aku duduk di teras Masjid dan menyandarkan tubuhku di dinding yang agak sedikit hangat, mungkin karena tadi pagi cahaya mentari menyinari diding ini yang kini telah teduh terlindungi oleh atap Masjid yang berwarna hijau.

Belum sempat aku keluar dari masjid ini, kini pikiranku kembali mengingat kejadian itu, yang sempat kulupakan sejenak saat shalat dzuhur tadi, kini sangat mengacaukan otakku. Tiba-tiba saja aku teringat perkataan seorang sahabat.

“Dakwah tidak membutuhkan antum. Ada atau tidaknya antum, dakwah akan terus berjalan. Tapi, apakah syurga Allah tak menggairahkan untuk antum masuki?”

Ya Allah, kalimat itu rasanya menampar hatiku, menyadarkanku bahwa aku yang membutuhkan dakwah ini, kita membutuhkan dakwah untuk mencapai jannah-Nya, bukan dakwah yang membutuhkan kita, dan aku tidak punya waktu untuk menyesali keadaanku karena dakwah akan terus berjalan tanpa menungguku.

“A’udzubillahissami’il alim minasysyaithanirrajim” Apa yang telah kulakukan sepanjang hari ini? Menguras pikiranku dengan hal yang sia-sia?. Seharusnya keadaanku ini bukan malah membuatku terpuruk, tetapi keadaanku ini haruslah menjadi penyemangat yang hebat untuk memotivasi ku agar terus belajar dan belajar, karena seorang muslim selalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran positif (khuznudzon)  yang membuatnya selalu bersemangat dan tidak berputus asa dari Rahmat Allah SWT.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”(QS.Al Baqarah:155)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”(QS.Ali Imran:104)

Sekejap Ayat ini mengembalikan semangatku yang sempat hilang, menguatkanku dan menyadari ini hanyalah kerikil dakwah. Karena hanya orang-orang pilihanlah yang hatinya terpaut untuk berdakwah, merekalah orang-orang yang beruntung, pengemban tugas mulia, merekalah penerus risalah Nabi.

1 komentar:

  1. Membaca tulisanini mengingatkan saya pada masa 15 tahun silam saat msh mjd pegiat dakwah kampus.... Baarakallaahu fiikum

    BalasHapus

 
Muliakan Hidup Dengan Ilmu © 2012 | Designed by Bubble Shooter, in collaboration with Reseller Hosting , Forum Jual Beli and Business Solutions